TEKNIS PENULISAN MA ISTIFHAMIYAH DALAM PEM BELAJARAN QAWAID AL-IMLA’
TEKNIS PENULISAN MA ISTIFHAMIYAH DALAM PEM BELAJARAN
QAWAID AL-IMLA’
Firgiawan makalunsenge
Email: irgi14makalunsenge@gmail.com
Fajriani A. Syukur
Emai: fajrianialsyukur@gmail.com
Al-qur’an memiliki keindahan bahasa yang sangat tinggi, serta menyimpan pesan yang perlu ditafsirkan. Sehingga kaidah kebahasaan perlu dipahami yang sebagai penunjang kebahasaan dalam bahasa turunnya Alqur’an. Salah satu kaidah kebahasaan yang digunakan Al-qur’an yaitu istifham atau kata tanya. Kaidah bahasa yang terdapat dalam Al-qur’an memiliki dua makna, yaitu makna haqiqi (makna tekstual) dan makna majazi (makna kontekstual). Makna haqiqi (makna tekstual) adalah kalimat yang menunjukkan arti sebenarnya. Sedangkan, makna majazi (makna kontekstual) adalah makna yang tersembunyi berdasarkan konteks kalimat.
Kata kunci: Kaidah bahasa, Bahasa Arab, Tafsir, Istifham
Pendahuluan
Barometer kepandaian seseorang salah satunya dapat dilihat dari sisi bahasanya. Pilihan kata, gaya bahasa dan cara bicaranya akan menunjukkan kehebatan dan kemampuan intelektual serta martabat orang tesebut. dalam istilah Arab, orang tersebut disebut dalam kategori mutakallim baligh atau bisa disebut juga mutakallim fashih yakni orang yang bicaranya bagus, hebat, tepat dan jelas.
Orang Arab menyebut “kehebatan berbahasa”tersebut dengan istilah balaghah. Dalam balaghah terdapat suatu Ilmu yang disebut Ilmu Ma’ani, yakni Ilmu yang mengkaji makna. Salah satu kajian Ilmu Ma’ani adalah kalam insya’I thalabi yang di dalamnya mencakup amar (kalimat perintah), nahyi (kalimat larangan)., tamanni, nida (seruan), dan istifham (kalimat tanya).dalam penggunaan istifham banyak terjadi penyimpangan, sehingga berpengaruh terhadap makna yang di timbulkan.
Tujuan pembelajaran Qawaid Al-Imla’ yaitu pelajar mampu untuk menulis huruf dan kata secara benar, cepat dan sempurna. Dan dari aspek kebahasaan yaitu untuk membekali pelajar dengan pemikian-pemikiran, makna-makna, lafal-lafal, serta struktur kalimat baru, serta untuk mempertajam indra pendengaran dan penglihatan, mengokohkan hubngan kedua indra tersebut di otak melalui apa yang didengar serta dilihat dan mempraktekannya langsung dengan menulisnya. Dan juga untuk meningkatkan rasa estetika dengan cara memperhatikan fenomena keindahan dan kerapihan tulisan.
PEMBAHASAN
A. Kaidah tentang Pola Istifham dam Al-qur’an
Istilah kaidah secara etimologis, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah ialah perumusan asas-asas yang menjadi hukum, aturan tertentu, patokan, dalil dalam ilmu pasti.(Phonix) Pada awalnya, kaidah merpakan kata serapan dari bahasa Arab qa’idah yang bentuk jamaknya qawa’id, dalam kitab al-Munjid fil-Lugah wal-A’lam, kata ini diartikan sebagai undang-undang, aturan, dasar atau pondasi sebagaimana Allah berfirman:
• •
Terjemahan : “dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan Kami terimalah daripada Kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui".
Kaidah yang ditetapkan dalam penggunaan istifham ini, menurut as-Suyuti ialah bahwa setiap pertanyaan yang ada di dalam Al-qur’an sebagai khitab atau pesan dari Allah SWT (message of God), sehingga orang ditanya pasti mengetahui jawabannya, baik jawaban itu mengiyakan maupun menyangkal.
Adapun menurut Syekh Mustofa Ghalayini istifham ialah هُوَ اسْمُ مُبْهَمٌ يُسْتعلَمُ بِهِ عَنْ شَيئٍ (isim mubham yang menyatakan pertanyaan akan sesuatu) contohnyaكَيْفَ أَنْتَ (bagaimana kamu laki-laki),(Suyuti) sedangkan Nurul Huda dalam karyanya berjudul Mudah Belajar Bahasa Arab, Iistifham yang digunakan sebagai kata bantu atau kata pena untuk membuat kalimat menyatakan pertanyaan.(Mustofa Al-Ghayini) Term اسْتِفْهَامَ, يَسْتَفْهِمُ, اسْتِفْهَامًا yang artinya mencari tahu atau ,mencari khobar.(Huda)
B. Pembagian Istifham (pertanyaan)
Di lihat dari polanya istifham secara garis besar terbagi menjadi tiga, masing-masing mempunyai ciri dan penggunaan yang berbeda dari lainnya, yakni:(Agama)
1. Istifham inkari, adalah pola pertanyaan yang bertujuan menuntut orang yang ditanya agar meniadakan kalimat yang terletak setelah huruf istifham, yaitu sesuatu yang ditanyakan. Seperti di dalam Al-qur’an:
Al-mu’minun 23
•
Terjemahan : “dan Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?"
Ayat diatas yang ditanyakan adalah masalah keimanan kepada Nabi Musa dan Harun, penanya menuntut agar orang yang ditanya mengingkari keimanan kepada kedua Nabi tersebut.
2. Istifham Taqriri, adalah pola pertanyaan yang menuntut pengakuan dari orang yang ditanya pada sesuatu yang telah ditetapkan baginya, seperti:
As-syu’ara’ 72-73
Terjemahan : berkata Ibrahim: "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?, atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?"
Pada penjelasan di atas mengungkapkan pertanyaan Nabi Ibrahim yang dianjurkan kepada kaumnya, dalam isi pertanyaannya. Ia menuntut kaumnya untuk mengakui bahwa berhala yang mereka sembah adalah tidak dapat mendengar dan tidak dapat memberikan kemanfaatan atau madharat sama sekali kepada mereka.
3. Istifham Taubikhi, yakni pola pertanyaan yang bertujuan untuk merendahkan. Olehkarena itu, kalimat yang terletak setelah huruf istifham. Contoh penggunaan semacam ini seperti ayat:
At taha 93
Terjemahan : (sehingga) kamu tidak mengikuti Aku? Maka Apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?"
Ayat diatas menjelaskan tentang pertanyaan Nabi Musa kepada Nabi Harun. Tujuan dari pertanyaan untuk mencela, kalimat yang terletak setelah hruf istifham, yakni mendurhakai, yang menjadi isi pertanyaan. Sepatutnya untuk tidak dilakukan oleh Nabi Harun sebagai orang yang ditanya.
Menurut sebagian pendapat, istifham taqriri merupakan bagian dari istifham inkari. Namun, keduanya tetap memiliki perbedaan. Kalau istifham taqriri mengingkari isi pertanyaan dengan maksud mencela, sedangkan istifham inkari mengingkari isi pertanyaan dengan maksud membatalkan.(Al-Qattan)
C. Macam-macam Istifham (pertanyaan)
1. Hamzah (ء) apakah
2. Hal (هَلْ) apakah
3. Maa (مَا) apa
4. Man (مَنْ) siapa
5. Mataa مَتَٰى kapan
6. Ayyaana (اَيَّانَ) bilamana
7. Kaifa (كَيْفَ) bagaimana
8. Aiyna (اَيْنَ) dimana
9. Anna (اَنَّ) dari mana
10. Kam (كَمْ) berapa
11. Ayyu (اَيُّ) apa,siapa
D. Contoh Macam-Macam Istifham
No Huruf istifham Contoh Istifham dalam Al-qur’an
1. ء AL ANBIYA 62
2 هَلْ AL- A’ARAF 44
3 مَا AT-TAHA 17
4 مَنْ YASIN 52
5 مَتَٰى AL- BAQARAH 214
6 اَيَّانَ AL-QIYAMAH 6
7 كَيْفَ AN NISA 41
8 اَيْنَ AT TAKWIR 26
9 اَنَّ AL BAQARAH 259
10 كَمْ AL-KAHF 19
11 اَيٌّ MARYAM 73
Penjelasan:
a. Hamzah (ء)
Huruf tersebut biasanya dipakai untuk menanyakan keberadaan subyek seperti contoh di dalam Al-qur’an: Al anbiya 62
Terjemahan : mereka bertanya: "Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan Kami, Hai Ibrahim?"
Pertanyaan dalam ayat ini ditunjukkan untuk mengetahui keberadaan subyek yaitu siapakah pelaku yang telah melakukan perbuatan, pengrusakan terhadap tuhan-tuhan Namrud dan kaumnya, apakah Ibrahim atau subyek lain (selain Ibrahim).
Tidak hanya itu huruf ini juga digunakan untuk menanyakan keberadaan predikat, maksudnya apakah predikat itu melekat pada subyek atau tidak. Seperti dalam ayat: Al-a’raf 7
Terjemahan :Maka Sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus Rasul-rasul kepada mereka dan Sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) Rasul-rasul (Kami),
Kalau diamati, pertanyaan dalam ayat ini tidak menanyakan siapa yang beriman, melainkan apakah penduduk desa itu beriman atau tidak, jadi keberadaan predikat dalam hal ini adalah tindakan kaum beriman.
Hamzah istifham (bertanya) ada 2 macam, yakni: Istifham tashowwuri. Pada istifham tashowwuri, yang ditanyakan itu adalah lafadz yang menghampiri hamzah itu sendiri dan sesudahnya. Biasanya ada muaddil (pembanding) di ucapkan setelah am-muttashilah. Adapun istifham tashdiqi. Jika tashowwuri biasanya ada muaddil (pembanding) maka, tashdiqi sesudahnya tidak ada am-muttashillah dan muaddil.
Perbedaan muttashilah dan munfashilah ialah:
• Al-muttashilah membanding yang ditanyakan dengan tidak menafyikannya, bahkan menegaskan bahwa yang ditanyakan adalah satuan.
• Al-munfashilah membanding dengan menafyikan yang ditanyakan agar tetap yang ditanyakan itu nisbah.
b. Hal (هَلْ)
Huruf istifham hal dipakai untuk menanyakan keberadaan predikat, apakah predikat itu dilakukan oleh subyek atau tidak. Pola ini berbeda dari yang diatas, yaitu penggunaan hamzah dapat digunakan untuk menanyakan perihal subyek dan predikat, contohnya: Al-a’raf 44
Terjemahan : iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya[529] sampai waktu mereka dibangkitkan".
Pertanyaan dalam ayat diatas, diucapkan oleh ahli surga kepada ahli neraka. Tekanan dari pertanyaan ini adalah apakah para ahli neraka itu telah mendapatkan apa yang dijanjikan oleh Tuhan mereka atau tidak, jadi pertanyaannya bukan difokuskan kepada siapa yang mendapatkan apa yang dijanjikan oleh Tuhan berupa siksaan.
Adapun hal ini hanya untuk tashdiqi saja,karena itu sesudahnya tidak boleh ada muaddil dan tidak boleh ada am-muttashilah. Adakalanya huruf hal di ibaratkan untuk amar (perintah), istibtho’ (menganggap mudah), taqrir (menetapkan), ta’ajjub (kaget), tahakkum (memperolok-olokkan), tahqir (menghinakan), tanbih (memperingatkan), istib’ad (menganggap jauh), tarhib (menakut-nakuti), inkar dzi taubih (mencela dengan menghardik), dan takdzib (mendustakan).(Al-Akhdori)
c. Maa (مَا)
Kata istifham Maa digunakan untuk menanyakan subtansi atau perihal sesuatu yang tidak berakal. Penggunaan dalam Al-qur’an seperti, At taha 17
Terjemahan : Apakah itu yang di tangan kananmu, Hai Musa?
Pertanyaan yang terekam pada ayat diatas seakan-akan ingin menunjukkan kepada Musa bahwa apa yang ditangan kanannya adalah subtansi tongkat, sebelum tongkat itu diubah oleh Tuhan menjadi ular, Allah SWT ingin menunjukkan bahwa ia mampu mengubah tongkat menjadi hal lain, yakni ular. Pola istifham pada huruf maa mempunyai 3 bentuk yaitu:(Wahab Muhsin Dan Fuad Wahab, Okok-Pokok)
• Sesuatu sebutan yang belum difahami artinya. Contohnya: مَا العَسْجَدُ؟ العَسْجَدُ هُوَ الدَّهَبُ (Apa asjad itu? Asjad adalah mas) maa untuk menuntut penjelasan sesuatu sebutan.
• Maa untuk menuntut tahu hakikat yang disebut, seperti: مَا لْأِنْسَانُ؟ الْأِنْسَانُ حَيَوَانٌ نَاطِقٌ (Apakah manusia itu? Manusia adalah makhluk berakal).
• untuk menuntut tahu keadaan, seperti مَا اَنْتَ؟ اَنَا بِخَيْرِ وَالْحَمْدُ لِلهِ (Bagaimana engkau? Saya baik-baik saja)
Dari beberapa kitab/buku huruf Maa tidak hanya mempunyai faedah istifham, akan tetapi ada manfaat lain.
Istifham man digunakan untuk menanyakan perihal sesuatu yang berakal. Seperti di dalam ayat: Yasin 52
•
Terjemahan : mereka berkata: "Aduhai celakalah kami! siapakah yang membangkitkan Kami dari tempat-tidur Kami (kubur)?". Inilah yang dijanjikan (tuhan) yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(Nya).
Huruf istifham Man pada dasarnya sama dengan maa, bedanya kalau man untuk yang berakal, sedangkan maa untuk yang tidak berakal. Telah disebutkan ayat di atas, pertanyaan itu mengarah pada siapa hakikat sebenarnya yang telah membangunkan manusia dari tempat tidur.
Huruf mataa digunakan untuk menanyakan perihal waktu, baik yang lampau (madhi) maupun yang akan datang (mustaqbal). Seperti dalam ayat: Al baqarah 214
• • • •
Terjemahan : Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.
Di antara gambaran beratnya cobaan yang pernah mereka jalani itu adalah bahwa para Rasul dan pengikutnya pernah melontarkan perkataan seperti ini “Kapankah datangnya pertolongan setelah kehinaan ini. Wahai orang-orang beriman pertolongan Allah SWT sangatlah dekat, kelapangan akan segera tiba dan kemenanganakan segera datang. Janganlah kalian berputus asa.(Al-Qarni)
f. Ayyaana (اَيَّانَ)
Huruf istifham ayyaana digunakan untuk menanyakan keberadaan waktu yang akan datang saja dan biasanya pada keadaan menggemparkan. Seperti dalam ayat: Al qiyamah 6
Terjemahan : ia berkata: "Bilakah hari kiamat itu?"
Keadaan yang terus-menerus melakukan perbuatan maksiat dan dosa, maka untuk kepastian psikologis dia bertanya kapan hari kiamat. “Ia berkata Bilakah Hari Kiamat itu?” pertanyaan kapan hari kiamat menjadi kanalisasi bagi kedurhakaan. Sebab mempertanyakan hari kiamat sama dengan mempertanyakan kemahakuasaan Allah SWT, terbayang ada keraguan dalam pertanyaan tersebut. Ada nuansa yang tersirat pertanyaan apakah hari kiamat jadi datang atau tidak, keraguan ini hendak dihentikan dengan menanyakannya.(Yusuf)
Kaifa digunakan untuk menanyakan tentang keadaan atau kondisi seperti dalam ayat: An nisa 41
•
Mufassir ternama M.Quraish Shihab dalam tafsirnya menyebutkan kata kaifa pada ayat diatas mengandung sekian banyak hal yang luar biasa yang tidak dapat ditampung oleh kata-kata, antara lain, bagaimana alas an mereka, bagaimana perasaan dan penyesalannya, bagaimana siksa yang akan mereka alami dan lain-lain.(Shihab)
h. Aina (اَيْنَ)
Aina digunakan untuk menanyakan keberadaan tempat, contoh di dalam Al-qur’an: At takwir 26
Terjemahan : Maka ke manakah kamu akan pergi[1560]?
Menurut buya Hamka dalam tafsirnya maksud dari ayat diatas ialah yang dibawa itu pun adalah Sabda Ilahi, bukan kata-kata syaitan, dan Muhammad itu sendiri pun pernah bertemu mka dengan Jibril itu; jadi yang membawa, yang dibawa dan orang yang menerima pembawaan adalah mendapat jaminan dari Allah belaka, dengan alasan apakah lagi kamu hendak mengelakkan diri? Ke mana lagi kamu akan pergi? Ke jalan mana? Ke jurusan mana? Kalau kamu pakai akal fikiranmu yang waras, sekali-kali tidaklah akan dapat kamu tolak kebenaran ini.(Hamka, “Tafsir Al-Azhar”)
i. Anna (اَنَّ)
Sementara itu, huruf istifham anna memiliki beberapa makna dalam penggunaannya diantaranya:
• Bermakna kaifa seperti dalam ayat: Al baqarah 259
• • • • •
Terjemahan : atau Apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: "Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?" Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: "Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?" ia menjawab: "Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari." Allah berfirman: "Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi beubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging." Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: "Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."
• Bermakna mim aina contohnya dalam ayat: Al imran 37
• •
Terjemahan : Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.
• Bermakna mataa, seperti di dalam ayat: Al-baqarah 223
•
Terjemahan : isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.
j. Kam (كَمْ)
Sedangkan huruf kam istifham digunakan untuk menanyakan perihal bilangan yang masih tidak jelas atau tidak di ketahui. Allah SWT berfirman: Al-kahf 19
• •
Terjemahan : dan Demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. berkatalah salah seorang di antara mereka: sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)". mereka menjawab: "Kita berada (disini) sehari atau setengah hari". berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah Dia Lihat manakah makanan yang lebih baik, Maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia Berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun.
Setelah sampai menurut waktu yang di takdirkan Allah SWT, mereka dibangunkan oleh kehendak Tuhan. “Sampai mereka bertanya diantara mereka.” Artinya setelah semuanya bangun dari tidur yang amat nyenyak itu, mereka pun tercengang-cengang. “Bertanya diantara mereka: “Berapa lama kamu berada disini?” meskipun dia berkata kamu kepada teman-temannya, mereka menjawab demikianlah kita telah disini satu hari atau setengah hari. Demikian buya Hamka menafsirkan ayat diatas.(Hamka, “Tafsir Al-Azhar”)
k. Ayyu (اَيُّ)
Huruf istifham ayyu digunakan untuk menanyakan satu sifat dari dua yang bercampur, menanyakan zaman, tempat, makhluk berakal, dan makhluk yang tidak berakal. Seperti contoh di dalam Al-qur’an: Maryam 73
•
Terjemahan : dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang (maksudnya), niscaya orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: "Manakah di antara kedua golongan (kafir dan mukmin) yang lebih baik tempat tinggalnya dan lebih indah tempat pertemuan(nya)?"
Dari semua huruf-huruf diatas mempunyai faedah pertanyaan (istifham), akan tetapi terkadang ada yang menyimpang dari pengertian asalnya, bukan bertanya lagi seperti semula yakni istifham menyimpang dari makna asal. Berikut ini akan diuraikan pembagiannya:(Wahab Muhsin Dan Fuad Wabah, Pokok-Pokok)
1. Attaswiyyah (menyamakan), seperti (سَوَاءٌعَلَيْهِمْ اَ اَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُم sama saja bagi mereka apakah engkau memperingatkan mereka atau tidak memperingatkan mereka).
2. Annafyu (meniadakan), seperti (اَيَغْفِرُاللهُ كَافِرُ apakah Allah SWT akan mengampuni orang kafir).
3. Al-Amru (memerintahkan),seperti فَهَلَ اَنْتُمْ مُنْتَهُوْنَ) apakah kamu akan berhenti)
4. Al-inkaru (mengingkari), seperti (اَغَيْرَ اللهِ تَدْعُوْنَ kenapa bukan Allah SWT kamu menyembah).
5. Annahyu (melarang), seperti (اَتَخْشَوْنَهُمْ takutlah kamu kepada Tuhan mereka).
6. Attasywidu (mendorong rindu), seperti (هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِلْكُمْ مِنْ عَذَابٍ اَلِيْمٍ apakah aku tunjukkan kepadamu suatu perdagangan yang akan menyelamatkan kamu dari siksa yang pedih).
7. Atta’dzimu (mengagungkan), seperti (مَنْ ذَا الَذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ الاَّ بِأِذْ نِهِ siapakah yang berani memberikan syafa’at disisi Allah SWT tanpa izinnya, yakni tidak ada karena sangat agungnya).
8. Attahqiru (menghinakan), seperti (اَهَذَالذِّيْ بَعَثَ اللهُ رَسُولاً inikah yang diutus Allah SWT sebagai Rasul).
9. Attamani (mengangan-angankan), seperti (فَهَلْ لَنَا مِنْ شُفَعَا ءَ فَيَشْفَعُوا لَنَا maka adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan member syafa’at bagi kami).
10. Atta’ajub (heran), seperti (اَبِنْتَ الدَهْرِ عِنْدِي كُلِّ بِنْتِ فَكَيْفَ اَنْتِ وَصَلْتِ مِنَ ازَّخَامِ wahai muslihat, pada diriku ada segala muslihat bagaimana kau bisa sampai dalam keadaan berdesak-desakan).
Kesimpulan
istifham dalam Al-qur’an memiliki adawat (adat-adat) sebagai cirri khas yang membedakannya dengan kaidah lain. yaitu ditandai dengan huruf hamzah (ء), lafal hal (هَلْ), ma (مَا), man (مَنْ), ayyana (اَيَّانَ), kaifa (كَيْفَ), aina (اَيْنَ), anna (اَنَّ), kam (كَمْ), ayyu (اَيُّ).
Adapun makna dari ungkapan istifham bisa bermacam-macam bergantung pada siyaqul kalamnya. Sedangkan tujuan dari kaidah istifham dalam ilmu tafsir adalah untuk memberikan penegrtian kepada para pendengar dan memiliki pengetahuan untuk menafikan atau menetapkan suatu ayat Al-qur’an.
Daftar Pustaka
Agama, Kementrian. KAl-Qur’an Dan Tafsirnya Mukaddimah. p. 168.
Al-Akhdori, Abdurrahman. Jauharul Maknun. p. 75.
Al-Qarni, ’Aidh. “Tafsir Muyassar.” Jakarta: Qisthi Press2007, p. 165.
Al-Qattan, Manna. Mubahis Fi’Ulumil Qur’an. p. 138.
Hamka. “Tafsir Al-Azhar.” Pusat Nasional PTE LTD, 2003, pp. 10–13.
---. “Tafsir Al-Azhar.” Jilid 6, p. 41717.
Huda, Nurul. “Mudah Belajar Bahasa Arab.” Jakarta:Amzah, 2015, p. 23.
Mustofa Al-Ghayini, Syekh. Jami Al-Durus Al-Arabiyyah, Lebanon Darul L-Kutub Al-Ilmiyah. 2009, p. 106.
Phonix, Tim Pustaka. “Kamus Besar Bahasa Indonesia.” Jakarta, Media Pustaka Phoenix Jakarta, 2009, p. 401.
Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Misbah. 2002, p. 539.
Suyuti, Al. Al-Itqan. p. 128.
Wahab Muhsin Dan Fuad Wabah, Pokok-Pokok. pp. 102–03.
Wahab Muhsin Dan Fuad Wahab, Okok-Pokok. p. 99.
Yusuf, M. Yunan. “Tafsir Juz Tabarak Khuluqun ’Azhim.” Tenggerang: Lentera Hati, 2013, p. 539.
Komentar
Posting Komentar